Dia yang Berbeda
by : Tiffany

"Berapa kali harus kukatakan padamu? Anakku tidak bersalah!"

"Bu, mohon tenang terlebih dahulu, kita masih belum tahu kejadian persisnya seperti apa namun berdasarkan kesaksian murid-murid yang lain, Ares yang lebih dulu meledek dan memukul Adonis,"

'Berisik...'

"Tidak mungkin! Anakku adalah seorang malaikat! Ia adalah anak yang sangat kucintai dan kubanggakan. Ares ku yang pintar, tampan, dan berbakat. Tidak! pasti anak aneh itu yang menyerang lebih dulu!"

'Berisik sekali...'

"Nyonya Thalia, jika anda tidak keberatan, tolong turunkan jari anda. Saya tidak suka anda seperti itu."

'Aku ingin pulang...'

Wanita bernama Thalia tersebut mendengus kesal selagi menjauhkan tunjukannya, "bahkan ibunya saja tidak tahu sopan santun. Hai wanita rendahan! Anakmu sudah menyakiti anakku dan kau berani bersikap lancang kepadaku?!"

Wanita diseberangnya hanya menatap kesal Thalia. Sorot matanya yang tajam, sesaat membuat Thalia tertegun. Thalia menggertakkan giginya dengan kesal dan menghentakkan kakinya pada lantai tegel yang di pijaknya. Wanita bertubuh agak gemuk dengan riasan tebal itu lalu merampas tasnya dengan kasar sebelum Ia keluar dari ruang pertemuan tersebut. Tentu diiringi dengan beberapa sumpah serapah yang tak henti mengalir dari mulutnya, mengekspresikan emosinya yang membara.

Dalam ruangan tersebut tersisa 3 orang. Seorang pria berseragam biru dengan rambut gondrong yang diikat, tampak sibuk memijat pelan pelipisnya, matanya tertutup rapat seakan mencoba memperoleh segelintir waktu untuk nya mengistirahatkan mata dan pikirannya. Di sebelah kirinya terdapat seorang wanita yang terduduk di atas sofa kulit berwarna putih.

Wanita tersebut memakai pakaian yang sederhana, rambutnya yang panjang sebahu, dibiarkannya terurai lemas. Seorang anak di pangkuannya tampak risih dan terus menggeliat seolah tak nyaman. Anak itu terlihat masih kecil, meski umurnya sudah menginjak 13 tahun, badannya yang kurus dan pendek memberi kesan bahwa ia masih duduk di bangku SD disaat dirinya sudah berada pada jenjang SMP. Ia terus menerus menggeliat dan memutar-mutar tubuhnya, berusaha untuk lepas dari pelukan sang ibu.

"Adonis? Ada apa nak?"

Bocah bernama Adonis tersebut melompat turun dari pangkuan ibunya dan berjalan menjauh dari kedua sosok dewasa yang sekarang tengah memperhatikan gerak geriknya. Wanita tersebut menghela nafas panjang, menarik perhatian pria yang duduk disampingnya.

"Gio, aku minta maaf, kalau bukan karena Adonis-"

Pria bernama Gio itu menggelengkan kepalanya, menghentikan wanita tersebut di tengah kalimatnya.

"Ndak, ndak apa-apa. Bu Thalia itu memang suka membesar-besarkan masalah. Sudah banyak laporan tentang Ares dari orang tua lainnya tapi bu Thalia memang nggak suka anaknya disalahin." Gio menjelaskan, aksen Jawanya membuat kata-kata yang diucap nya mengalir pelan sering ia berbicara.

"Lagian kamu tidak perlu khawatir Rhea, aku mengerti kalau anakmu itu… anu…agak berbeda, jadi nanti kalau pun bu Thalia melapor, aku yakin Adonis nggak salah."

Rhea menunduk, rasa malu menyelimutinya sesaat kata-kata "berbeda" keluar dari mulut Gio. Ia sadar akan kondisi Adonis, ia sadar akan pertidaksamaannya dengan anak-anak lain seumurannya. Tak merespon saat namanya dipanggil, tidak suka bergaul dengan teman-temannya, mengucapkan kata yang sama berulang kali, atau menepuk-nepuk meja tanpa henti. Wali kelasnya sudah protes akan kondisi dimana Adonis sulit sekali untuk fokus pada saat jam pelajaran. Orang tua lain membicarakan Adonis seakan Adonis merupakan hot topic dari setiap pembicaraan dan gosip.

Rhea tidak suka.
Rhea membencinya.

Ia benci akan semua bibir dan suara yang menyebut dan menunjuk betapa berbedanya Adonis. Rhea malu. Tak hanya di sekolah, dirumah pun juga begitu, anak-anak tetangga yang selalu mengejek Adonis ketika ia bermain sendirian di teras rumah. Rhea malu, dan ia membenci rasa malu itu.

"Rhea? Kamu nggak apa-apa?"

Aksen Jawa Gio yang cukup kental, membangunkan Rhea dari lamunannya. Rhea kembali mengangkat kepalanya, menghadap ke Gio dan memaksakan sebuah senyuman. "Ah…sepertinya aku sedang agak lelah. Akhir-akhir ini Agares suka pulang terlambat dan aku menunggunya sampai larut." Mendengar nama yang di disebutkan Rhea, raut wajah Gio berubah tidak suka, "kamu masih sama dia?" Rhea hanya menghela nafas panjang dan mengangguk.

"Tahan Rhe? kalau ndak, aku bantu kamu lepas dari dia,"

Rhea menggeleng, "Aku ingin Adonis untuk hidup normal bersama dua orang tua, lagipula mau jadi apa aku setelah lepas dari Agares?"

Gio membuka mulut untuk menyangkal, namun Rhea memotongnya.

"Sepertinya aku harus pulang, masih banyak pekerjaan rumah yang belum aku kerjakan. Kalau sampai Agares tau, aku akan dimarahi." Rhea menyelesaikan kalimatnya dengan tawa kecil, meskipun begitu, ekspresi Gio tidak berubah. Ia khawatir akan Rhea.

"Adonis! kemari nak, ayo kita pulang," Rhea beranjak dari tempat duduknya, memutar kepalanya untuk mencari sang buah hati. "Adonis?"

Adonis terpesona, matanya tak lepas dari sebuah karya seni yang digantung tak jauh dari tempat ibu dan gurunya berbincang. Jemari kecilnya menelusuri pola halus kuas pada karya tersebut, berbagai percikan warna tampak menari-nari diatas kanvas, menciptakan pola yang sulit dipahami namun indah dipandang.

"Adonis? Kau sedang apa? ayo kita pulang"

Kata "pulang" merupakan satu-satunya hal yang dapat menarik perhatian Adonis dari karya yang sedang ia amati. Ia spontan berlari ke arah Rhea dan memeluk kakinya. "Ayo pulang" ucapnya kencang. Rhea mengelus pucuk kepalanya dan berpamitan dengan Gio.

***


Tik...tik...tik...

Bunyi detak jarum jam adalah satu-satunya suara yang dapat didengar dari ruang makan yang lengang tersebut. Jam menunjukan pukul 11.56 malam, 4 menit sebelum tepat pukul 12 malam. semakin dekat jarum panjang dengan angka 12, semakin risau perasaan Rhea. Rasa takut bagaikan memakannya dari dalam, benar-benar menusuk sampai membuat wanita berambut sebahu tersebut mual.

Matanya menatap jam dinding lamat-lamat, dan sesaat jam tersebut berbunyi menandakan pukul 12. Rasa gelisahnya memuncak, seiringan dengan itu, kupingnya mendengar kenop pintu depan diputar. Kepalanya spontan menoleh, dengan tergesa-gesa tangan nya merapikan meja makan, memastikan semua makanan yang sedari tadi disiapkannya terlihat menggugah selera.

"Aku pulang..."

"Selamat pulang suamiku, aku sudah menyiapkan makanan dan-"

Agares menyeret kakinya ke arah meja makan. Mengangkat sesendok sup ke bibirnya dan mengecap sup tersebut. Seketika raut wajah nya berubah masam, ia melempar sendok dalam genggamannya ke wajah Rhea dan punggung sendok tersebut telak mengenai dahi sang istri.

"Dasar istri tidak berguna! Suamimu pulang dengan tubuh hampir remuk karena kelelahan dan kau menghidangkan aku sup hambar yang sudah dingin?! kamu sudah gila hah?!"

Tak cukup hanya melempar sendok, Agares mengangkat panci penuh berisi sup dan membuang isinya tepat diatas kepala Rhea.

"Kau makan sup hambar itu, dasar tak becus!"

Agares beranjak pergi untuk membersihkan dirinya, meninggalkan Rhea yang basah kuyup dan lengket oleh sup yang ditumpahkan ke atasnya.

Rhea terdiam, dalam hatinya ia sangat bersyukur, mengucapkan terimakasih pada Yang Maha Kuasa karena apa yang dialaminya malam ini tidak separah setengah dari nya ingin membersihkan diri, sedangkan sebagian lainnya ingin tetap terduduk. Mencoba untuk memproses segala hal yang dialaminya sebelum ia bersih-bersih kembali.

Tanpa ia sadari, sesosok anak kurus telah memperhatikannya dari kejauhan. Suara ribut yang dihasilkan kedua orang tuanya menarik perhatian sang bocah yang belum sempat tertidur itu. Ia tidak mengerti persis apa yang terjadi, namun ia merasa kasihan kepada kedua orang tuanya. Ayahnya yang tidak makan, dan ibunya yang basah kuyup.

"Mama..."

Sesaat kemudian ia lalu melangkah kembali ke kamarnya untuk tidur.

***

Kriiinggg...!!!

Dering bel sekolah menggema dalam koridor gedung. Murid-murid yang sudah tidak sabar untuk kembali pulang ke rumahnya masing-masing, sontak bergegas keluar, menyerbu pintu-pintu yang tertutup. Tak butuh lama hingga gerbang sekolah dipenuhi anak-anak berseragam yang menunggu jemputan, entah dijemput oleh orang tua, saudara atau kerabat, atau bahkan pulang sendiri.

Di tengah-tengah kerumunan tersebut, tersembunyi seorang anak kecil kurus yang tampak menggenggam sebuah gantungan kunci usang sebuah maskot dari restoran yang pernah ia kunjungi. Perhiasan tersebut juga tidak besar, hanya sebesar segenggam tangan anak kecil, pas dengan ukuran telapak tangan Adonis.

Adonis juga sama seperti anak-anak berseragam yang lainnya, menunggu ibunya untuk menjemput. Ia berjalan menjauhi sekolah dan mengistirahatkan bokongnya pada jalan setapak. Maniknya tidak meninggalkan gantungan kunci yang masih sedari tadi digenggamnya. Ia menelusuri bentuk dan guratan pada mainan mainan tersebut dengan jemari nya yang kecil. Angannya berpetualang, di sebuah dunia yang hanya dirinya dapat melihat dan mengimajinasikan. Sebuah dunia yang tenang dan bahagia dan penuh kehangatan.

"Hei bocah! Sedang apa kau disini sendirian?"

Adonis terperanjat kaget setelah menerima sebuah tepukan kasar di pundaknya. Ia sontak berdiri dan mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang memanggilnya.

Tiga orang remaja, ketiganya memakai seragam SMA dengan dalaman kaos, tampak seperti anak-anak badung dengan sebatang rokok ditangan mereka. Remaja yang tadi menepuk pundak Adonis menghisap rokoknya sekali lagi sebelum ia membuangnya asal. Adonis melihat kelakuan remaja di hadapan nya dan dengan terbata-bata ia menunjuk pada puntung rokok yang masih menyala tersebut.

"T...tak boleh merokok... Theo... apinya harus... dimatikan," Ucapnya pelan.

Remaja bernama Theo itu tertawa kecil, ia mengalungkan tangannya pada leher Adonis dan menariknya kasar mendekat padanya. Adonis bisa mencium bau parfum maskulin yang diaplikasikan secara berlebih pada baju Theo. Mati-matian ia berusaha untuk tidak mengeluarkan kalimat yang ada di otaknya sekarang.

'Bau tidak enak...'

Theo mendekatkan bibirnya pada telinga Adonis selagi ia dan kawan-kawannya menyeret anak malang tersebut menjauh dari keramaian.

"Hey Adonis, lama tidak berjumpa, apa kau kangen padaku?"

Nada mengejek dari Theo disusul oleh beberapa cemooh dari teman-temannya yang lain. "Kau pasti rindu menjadi celengan ayam pribadiku, bukankah begitu Adonis?" Adonis hanya termangu selagi membiarkan dirinya diseret lebih jauh dari ramainya orang-orang di luar sekolah. Rasa takut menyelimuti dirinya, mengetahui apa yang berkemungkinan akan terjadi padanya.

Keempatnya tiba pada sebuah gang kecil yang sepi dan sempit. Ketiga remaja nakal yang mengantar Adonis pada tempat tersebut mengitari tubuh Adonis yang kerempeng. "Nah.. ayo ATM berjalan, berikan aku semua uang yang kau miliki," ujar Theo sembari menekan-nekan kasar dada Adonis seakan menekan tombol pada ATM. Kedua temannya tertawa, mengejek-ejek, dan sesekali menoyor atau menepis kepala anak yang lebih muda dari mereka itu.

Adonis menggeleng kencang setelah menerima toyoran keras dari Theo, kepala belakangnya menghantam dinding batu dan Adonis spontan merasa pusing.

"A...aku sudah jajan! aku tidak punya uang lagi!" Ucapnya terbata-bata.

Hening sesaat. Ekspresi Theo berubah drastis, matanya terbelalak, melotot marah. PLAK! sebuah tamparan keras mengenai pipi Adonis yang sedikit cekung. Impak dari tamparan tersebut, melempar tubuh Adonis ke tanah yang lembab dan kotor, genangan air berlumpur disekitarnya memercik, menyiram wajahnya. Ia dapat merasakan segenang air kotor yang merembes pada celana dan bajunya, tak nyaman rasanya.

Namun sesaat ia ingin berdiri, sebuah tendangan kencang mendarat pada punggung Adonis. Tekanan yang kuat di belakangnya membuat ia tidak berdaya, Theo yang melayangkan serangan-serangan tersebut menginjak punggung Adonis dengan sekuat tenaga, seolah anak yang berada di bawah kakinya itu adalah serangga menyebalkan.

"Hei anak aneh...kau ini se-bego apa hah? Apakah harus selalu ku ingatkan kau untuk membawa uang untukku? Dan dengan sembarangan kau memakai uang yang seharusnya kau berikan kepadaku untuk mengisi perut mungilmu itu? Dasar tolol!"

Sebuah tendangan kembali remaja itu layangkan ke perut Adonis. Adonis hanya terkapar lemas, tak punya daya untuk melawan remaja yang berukuran jauh lebih besar dibanding dirinya. Disaat dirinya berpikir bahwa semuanya telah usai, ia merasa tubuhnya terangkat dari kerah. Theo mencengkram kerah seragam anak itu dan mendekatkan wajahnya ke wajah kotor Adonis.

Rasa takut kembali menguasai Adonis. Perlahan, Theo berbicara tepat didepan wajah Adonis, tiap kata yang diucap Theo berbau rokok, begitu pula tangan yang mencengkram kerah bajunya.

"Karena kau berani menggunakan uangku, sepertinya kau pantas untuk mendapatkan ganjarannya. Bukankah begitu kawan-kawan?" Tuturnya.

Kedua kawan Theo mengangguk, senyum sinis pada wajah mereka semakin menakuti Adonis. Tanpa ia sadari, Adonis sudah mendapati tubuhnya terpelanting ke tanah. Ketiga remaja di sekelilingnya mendekatinya. Kepalan tangan di udara dan pukulan kencang serta tendangan bertubi-tubi dilayangkan ke tubuh kecil Adonis.

'SAKIT!'

Sebuah tinju mengenai rusuk Adonis, dan sejenak anak itu mendengar suara retak diiringi rasa sakit luar biasa.

BUK!

BUK!

BUK!

Sebuah tendangan kembali dirasakannya di ulu hati, lebih kencang dari sebelumnya. Lonjakan kuat dari perut Adonis mendorong isi perutnya dari dalam. Anak itu memuntahkan semua makanan yang disantapnya, membuat ketiga remaja yang sedang menghabisinya bergidik jijik. Namun serangan mereka tetap tak berhenti.

"Dasar menjijikan! Tak berguna! Mati saja kau!"

"Sudahlah tidak normal, tidak berguna, orang tuamu pasti menyesal telah melahirkanmu!"

"Matilah bocah aneh!"

'SAKIT!!!'

'MAMA!'

'MAMA TOLONG-'

Tendangan terakhir dilayangkan pada kemaluan Adonis, anak malang itu meringis kesakitan namun tubuhnya yang babak belur hanya bisa terkapar lemah. Ketiga remaja tersebut menjauh dari tubuh adonis, belum puas akan keadaan Adonis yang tak berdaya, Theo membisikkan sesuatu kepada dua temannya, dan secara beriringan tubuh Adonis dihujani liur ketiga remaja itu.

"Rasakan! Memang bocah tidak tahu diuntung, bersyukurlah kau karena ku biarkan hidup. Tapi kalau selanjutnya kau melakukan hal yang sama, jangan harap kau bisa pulang dengan utuh. Akan kupastikan kau cacat! Kau dengar bodoh?! Dasar merepotkan."

Ancaman terakhir dari Theo adalah hal terakhir yang didengar Adonis sebelum semuanya berubah gelap.

***

Elusan lembut menyadarkan Adonis dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka, mengerjap-ngerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya remang di atasnya.

"Ah? Kau sudah sadar? Syukurlah, sejenak kupikir kau akan terlelap lebih lama."

Suara lembut nan menenangkan menggema di telinga Adonis, kesadarannya masih belum sepenuhnya pulih namun ia tahu pasti suara lembut ini bukanlah suara yang dikenalnya.

"Dik? Apa kau sudah merasa lebih baik? Jika belum, berbaringlah lagi," lantun suara tersebut.

Adonis tidak pernah mendengar suara itu sebelumnya. Suara seorang wanita yang agak serak dan rendah, tiap kata yang diucapnya memberi rasa nyaman dan tenang dalam hati Adonis. Ia kembali mengerjap-ngerjap kedua maniknya, memaksa pandangannya untuk bekerja.

Satu menit berlalu dan penglihatan sang bocah kembali berfungsi, meski sedikit berkabut namun ia sekarang dapat melihat wajah dari sosok yang dipercayainya pemilik suara lembut tadi. Seorang wanita paruh baya, bertubuh agak besar, wajahnya bulat dan rambutnya disanggul sembarangan. Wanita itu melempar senyum tulus ke arah Adonis.

"Namaku Nivara, kau bisa panggil aku Niva. Aku yakin kamu takut dan kebingungan, namun tenang saja, kupastikan padamu bahwa kau aman disini."

Mendengar perkataan Niva, Adonis teringat akan kejadian mengerikan yang dialaminya. Gerak-gerik anak itu berubah waspada. Ia melihat ke sekelilingnya, sebuah kamar tidur sederhana yang penuh dengan peralatan melukis dan kanvas. Sebuah lukisan kelinci tergeletak diatas sebuah dudukan kanvas, tampaknya belum selesai. Di sudut lain dalam ruangan tersebut terdapat pula lukisan-lukisan padang rumput dan lainnya. Sesaat pandangan Adonis bertemu dengan lukisan itu, pikirannya langsung menyelam dalam imajinasi dan fantasi.

'Indah...'

Niva yang sedari tadi mengamati reaksi bocah kurus dihadapannya menyadari segelintir ketertarikan dalam matanya dan menoleh ke arah benda yang diperhatikan Adonis.

"Itu adalah lukisan-lukisan ku yang tidak terjual, peminatnya sedikit, ku letakkan disitu karena kompartemen lainnya yang kugunakan sudah penuh."

Adonis tidak merespon, dirinya masih asyik mengagumi lukisan tersebut. Tenggelam dalam imajinasinya, ia mengabaikan rasa sakit pada rusuknya seakan sakit itu tidak pernah ada sebelumnya. Niva menatap wajah Adonis lamat-lamat, mencoba menangkap detail wajah Adonis yang mulai membaik.

Ia tidak akan pernah lupa akan rasa kejutnya ketika mendapati seorang anak kecil terbaring di sebuah gang sempit sepulang dari tokonya. Badannya yang penuh luka dan lebam membuat ngeri, mengingatnya saja sudah cukup untuk membuat wanita itu bergidik.

Pandangan Niva lalu teralihkan ke tangan Adonis, sebuah memar tampak merekah di permukaan kulit Adonis, sebagian daerah pergelangan hingga telapaknya membiru dan sedikit bengkak. Niva mengulurkan tangannya, meraih tangan Adonis. Tetapi tangan yang ingin ia obati menarik diri darinya, menghindari sentuhannya.

Niva mengangkat pandangannya ke arah Adonis, ekspresi anak tersebut tampak khawatir dan ketakutan. Niva mengerti, ia kembali ke posisinya semula, tidak ingin memaksakan Adonis lebih jauh.

"Tanganmu terluka, apa aku boleh melihatnya? Aku janji aku hanya ingin mengobatimu," Ucap Niva pelan.

Adonis terdiam sejenak sebelum menyerahkan tangannya untuk diperiksa Niva. Niva tersenyum dan dengan hati-hati mengambil tangan Adonis. Selagi Niva bekerja membalut tangan Adonis dan memberinya obat, sang bocah memperhatikannya.

"Terimakasih...;"

Niva hanya membalas dengan senyum simpul.