Cerpen Horror : Perjalanan di Jepang
by : Auctor

Catatan : cerpen ini sepenuhnya fiksi

"Perhatian, perhatian. Pesawat akan mendarat dalam lima menit. Harap bersiap-siap."

Senyumku mengembang mendengar pengumuman itu. Tak kusangka, aku bisa pergi jalan-jalan, er, ralat, pergi melakukan dokumentasi, di Jepang!

Pemerintah terkait melihat fakta bahwa aku pernah mendokumentasikan kebudayaan Indonesia; logika mereka berteriak bahwa aku cocok untuk dikirim ke Jepang untuk melakukan dokumentasi.

Logika yang bagus! Mengirimkan seseorang yang tak bisa berbahasa Jepang sama sekali ke Jepang adalah ide yang brilian!

Untungnya, aku sempat belajar bahasa Jepang secara otodidak dan dengan bantuan Yuki, pacarku yang tinggal di Jepang. Untuk pertama kalinya, kami akan bertemu secara langsung!

"Johan!" sapa Yuki sambil melambaikan tangan. Yuki berambut hitam pendek dan memakai kacamata; aku bersyukur ia memanggilku karena ada empat cewek lain dengan ciri-ciri yang persis sama.

"Ah, Yuki!" balasku.

Aku sangat beruntung karena Yuki sudah menyewakan penginapan murah untukku. Hal ini membuatku bisa langsung bersiap-siap melakukan perjalanan. Yuki, seorang penerjemah profesional independen, memutuskan ikut denganku.

"Aku bosan menerjemahkan dokumen antah berantah," katanya, "lebih asik mengelilingi Jepang dengan pacarku!"

Hebatnya lagi, ternyata memang ada anggaran untuk menyewa jasa penerjemah. Artinya, mereka memang tidak mengharapkan aku bisa memahami bahasa Jepang dalam waktu sebulan.

Aku mengecek tempat-tempat yang diwajibkan untuk kudatangi: kuil Shinto, Gunung Fuji, kuil Shinto, memorial Hiroshima, kuil Shinto, kastil Osaka, kuil Shinto, Museum Nasional Kyūshū, kuil Shinto, Patung Buddha Nehanzou, dan kuil Shinto.

Memangnya kuil Shinto di sini ada berapa, sih?

Aku juga memasukkan berbagai tempat bermain dan restoran terkenal ke dalam daftar. Setelah tiga hari, Yuki dan aku berangkat.

Setelah mengunjungi tiga kuil Shinto yang berdekatan, kami pergi ke Hutan Aokigahara.

Ya.

Hutan bunuh diri.

"Tidak ada apa-apa di sini!" ujar Yuki setelah melihat tanganku yang gemetar saat memegang kamera.

"Ya, tetap saja ...." Aku ngeri juga, apalagi jika sampai melihat mayat segar yang baru menggantungkan diri atau sesuatu seperti itu.

Lalu, aku mendengar suara seperti air mengalir. Mendadak saja, keringat dingin tumpah dari dahi, apalagi setelah menyadari bahwa Yuki lenyap.

Netraku kemudian menangkap sesosok manusia di kejauhan. Tali melilit lehernya.

Napasku memburu. Aku mengedip dan sosok itu lenyap.

Tuhan, kenapa aku nekat lewat sini hanya untuk pergi ke Gunung Fuji?

Yuki kembali dari entahlah. Ia hanya nyengir melihat diriku yang berkeringat dingin.

"Aku kebelet kencing."

Aku memutuskan untuk keluar dari hutan itu seraya menceramahi Yuki yang ternyata baru saja buang air kecil sembarangan. Yuki hanya berkata, "Iya, iya."

Di hutan.

Di hutan tempat ratusan orang bunuh diri.

Yuki kadang-kadang kurang terang otaknya.

-----------

"Hei, Jo! Bagaimana kabarmu?"

Tiga orang temanku, Dion, Jenny, dan Lizzie, menghubungiku melalui percakapan video. Kami membicarakan banyak hal: kegiatan kami saat ini, memori indah kami di klub saat SMA dulu, cerita horor sekolah ....

"Hei, Jo," ujar Jenny, "siapa itu di belakangmu?"

"Paling pacarku, Yuki," balasku santai.

"Err," gumam Dion, "pacarmu ... cowok?"

Aku mengernyitkan dahi. "Ya jelas cewek!" Aku memutar badan, mendapati Yuki yang lewat; kami memang menyewa satu kamar saja agar biayanya murah.

"Eh? Pemuda laki-laki tadi sudah menghilang," imbuh Lizzie, "aneh."

Dion dan Jenny mengangguk.

"Ah, kalian ini," ujarku, "jangan bikin takut begitu, ah!"

"Tadi memang ada pemuda laki-laki di belakangmu!" desis Dion dan Jenny bersamaan.

"Ah, enggak ada," tukasku sambil menggeleng, "eh, sudah dulu, ya. Bateraiku hampir habis, nih."

"Oke!"

--------------------------

Tak terasa, turku ke Jepang sudah hampir selesai. Aku hanya memiliki waktu dua minggu lagi untuk berwisata, er, melakukan dokumentasi, di Jepang, tepatnya di Hokkaido.

Pada hari pertamaku di Hokkaido, aku diberi tahu bahwa teman-temanku, Dion, Jenny, dan Lizzie, akan pergi ke Jepang juga dan mereka memintaku menjemput mereka. Doni dan Jenny mendapatkan pekerjaan di Jepang; Dion di bidang aktuaria dan Jenny di bidang teknik biomedis. Sementara itu, Lizzie memanfaatkan cuti tahunannya.

Bandara Chitose di Jepang sangat bersih dan rapi. Aku duduk di kursi yang sangat nyaman; Yuki sedang berhalangan hadir karena hendak menghabiskan waktu keluarga dengan sahabat karibnya, Yuko, yang baru saja pulang dari tempat tinggalnya di Seoul dan bekerja sebagai guru SMA. Mataku lalu menangkap penampakan teman-temanku; aku segera bangkit berdiri.

Dion dan Jenny muncul lebih dahulu dengan membawa banyak koper. Di belakang mereka, Lizzie mengikuti dengan langkah agak tergopoh-gopoh dan wajah yang pucat. "Hei, Jo," ujar mereka bersamaan, "gimana kabarmu?"

"Eh, yah, baik," ujarku agak cemas melihat Lizzie yang nampak lemas, "er, kukira kita harus membantu Lizzie."

"Hah? Lizzie?" tanya Jenny kebingungan, "pesawat Lizzie baru akan turun lima menit lagi."

Dion mengangguk. "Dia berangkat dari Medan sementara Jenny dan aku berangkat dari Jakarta."

"Lah?"

Aku mengedipkan mata dan, benar saja, Lizzie sudah tidak ada lagi. "Haha," kataku sambil tertawa, "mungkin aku kelelahan."

Lizzie lalu menghampiri kami lima menit kemudian. Wajahnya cerah dan ia nampak segar bugar. "Wah, sudah lama sekali, ya!" ujarnya riang.

Kami memutuskan untuk makan di restoran bento di dekat bandara. Kami mengobrol panjang sekali. Ternyata, mereka bertiga sedang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka masing-masing.

Pernikahan, ya ....

Yuki ....

"Hei!"

Yuki dan Yuko mendadak muncul di belakangku dan Dion.

Sekilas, Yuki dan Yuko memang nampak mirip; hanya saja, Yuko lebih jangkung dan memiliki rambut yang lebih panjang.

"Lah, Yuko?!"

"Dion?!"

Yuko dan Dion sama-sama kaget, lalu mereka tersenyum dan berpelukan sebentan. "Wah, aku tidak menyangka sahabatku berpacaran dengan teman pacarku," komentar Yuki.

"Haha," ujar Yuko, "kami bertemu di Seoul."

-------------------------

Malangnya, Dion dan Jenny harus lanjut bekerja besoknya dan Yuko melakukan wawancara untuk menjadi guru di SMA Jepang.

Tingallah Lizzie, Yuki, dan aku. Pada hari ketiga, Yuki dan aku mengunjungi sebuah kuil Buddha (ada unsur Shintonya juga, sih; aku jadi bingung sendiri). Lizzie tidak ikut karena lebih suka mengunjungi museum.

Kuil itu ternyata berada di semacam pegunungan yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, Yuki dan aku memutuskan beristirahat dan makan bekal.

Kami mengambil dua botol air minum. "Lah! Apa ini?!"

Air yang harusnya berwarna bening berubah menjadi cairan merah kental ... seperti darah.

Kami mengedip dan cairan itu sudah hilang digantikan air bersih. "Ayo," desisku pada Yuki, "kita bereskan dokumentasi ini. Hutan ini mengingatkanku pada hutan tempat kamu kencing sembarangan."

Saat kami memasuki kuil, kepala biksu menatap kami nanar. Ia keluar sejenak, merapalkan beberapa mantra, lalu kembali masuk dengan ekspresi kaku.

Kami bertanya banyak tentang sejarah kuil kuno ini. Di tengah wawancara, Yuki berbisik padaku, "aku merasa tidak nyaman. Aku di luar."

Sebelum aku bisa melakukan apa-apa, Yuki sudah undur diri dan pergi dari kuil. Untungnya, biksu itu bisa bicara bahasa Inggris; kalau tidak, tanpa Yuki sebagai penerjemah, habislah aku.

Setelah berpamitan dengan biksu itu, aku keluar untuk menemui Yuki.

Yuki lenyap.

Maksudku, benar-benar lenyap.

Hanya ada sebuah pesan yang ditulis dengan darah di atas batu:

"Datanglah ke Hutan Aokigahara untuk menemui pacarmu!"

"Temanmu sudah membuat marah para hantu di sana," gumam si biksu.

---------------------

Tim yang kususun tidak memiliki banyak anggota. Dion, Jenny, Lizzie, Yuko, dan aku maju menembus vegetasi Hutan Aokigahara untuk mencari Yuki. Aku beruntung memiliki teman-teman setia seperti mereka.

Tunggulah, Yuki ....

Aku akan menemukanmu!

Rembulan menghiasi langit sementara kami tidur di dalam tenda-tenda. Aku terbangun pada jam empat pagi.

Semuanya sudah tidak ada.

"Yuko! Dion! Jenny! Lizzie!" teriakku panik. Keringat jatuh dari pelipisku. Mendadak, aku mendengar bunyi dering gawaiku. Aku menerima panggilan telepon itu.

"Hei, Jo!" ujar Dion renyah, "minggu depan, Yuko dan aku akan menikah! Kamu datang, ya! Aku akan mengirimkan undangan formalnya besok!"

"Dion!" seruku setengah membentak, "di mana kamu, Yuko, Lizzie, dan Jenny? Kenapa kalian meninggalkan tenda?!"

"Maksudmu?" tanyanya kebingungan, "Yuko dan aku di Inggris mempersiapkan pernikahan kami, Lizzie sedang berwisata di Italia, dan Jenny sedang bekerja di Kanada. Kau ini bicara apa, sih? Ah, omong-omong, pulsaku hampir habis, nih! Sudah dulu, ya, sampai jumpa!"

Tanganku bergetar. Inggris? Italia? Kanada?

Jadi ....

Siapa yang ....

Sebelum otakku bisa memahami kejadian janggal ini, aku mendengar suara teriakan yang mengerikan. Suara teriakan Yuki! Aku segera keluar dari tenda.

"Yuki!" seruku melihat Yuki terbaring lemas di tanah.

"Itu pacarnya?" bisik sebuah suara.

"Iya," bisik suara yang lain.

"Pacar brengsek yang berani-beraninya mengencingi makamku, ya?"

Asap hitam mulai muncul dan berubah menjadi wujud-wujud manusia. Salah satunya, seorang wanita muda, mencekik leherku.

"Aaa ...."

"Jangan!" jerit Yuki, "bunuh aku saja! Ia tidak bersalah!"

"Kematian bukanlah hukuman," bisik satu suara, "kematian membebaskan kita dari belenggu dunia fana."

"Tidak, tidak, kumohon ...." Yuki menangis sambil mencoba menarik tangan hantu yang sedang mencekikku.

"Akan tetapi, aku yakin menyaksikan orang yang kau sayangi mati karena perbuatanmu adalah hukuman yang sangat menyakitkan," bisik suara yang lain, "tanam adegan ini dalam otakmu yang dangkal itu sampai tua nanti, ya."

Netraku mulai menutup dan penglihatanku mulai memudar. Suara tangis Yuki mulai sayup-sayup. Tanganku mulai membeku. Napasku mulai melemah.

Lalu semuanya gelap.